Menurut pendapat Anda, strategi apa yang dapat dijalankan untuk meningkatkan internalisasi Pancasila sebagai Identitas Nasional Indonesia?
1. Pancasila merupakan identitas nasional Indonesia, jati diri bangsa Indonesia. Sebagai identitas nasional, maka sudah sepantasnya nilai-nilai Pancasila menjadi pedoman segenap bangsa dan negara di dalam bersikap dan berperilaku. Persoalannya, saat ini implementasi Pancasila dalam tataran sikap dan perilaku menghadapi tantangan karena derasnya arus globalisasi. Menurut pendapat Anda, strategi apa yang dapat dijalankan untuk meningkatkan internalisasi Pancasila sebagai Identitas Nasional Indonesia?
Sebagian besar masyarakat Indonesia kurang memahami tentang identitas nasional,
identitas nasional dapat dipahami sebagai ciri khas yang dimiliki oleh suatu bangsa dan berasal
dari bangsa itu sendiri, yang pada akhirnya menjadi penentu atau pembeda bangsa tersebut
dengan bangsa yang lain. Identitas nasional dengan demikian mencakup dua aspek. Pertama,adalah aspek ciri khas. Identitas nasional selalu merupakan representasi dari keadaan suatu bangsa. Identitas adalah gambaran yang mewakili keadaan dari bangsa tersebut. Kedua,identitas nasional juga merupakan pembeda dari bangsa tersebut dengan bangsa yang lain. Disamping menunjukkan ciri-ciri yang merepresentasikan keadaan suatu bangsa, identitas juga harus menunjukkan kekhasan bangsa tersebut dibandingkan dengan bangsa yang lain, sehingga dengan identitas tersebut, bangsa yang bersangkutan menunjukkan perbedaannya dengan bangsa yang lain. Inilah dua aspek yang penting di dalam identitas nasional. Ketiga, identitas nasional penting bagi kewibawaan negara dan bangsa Indonesia. Apabila telah saling mengenal identitas nasional masing-masing, maka akan tumbuh pengakuan kedaulatan, rasa saling hormat, saling pengertian, dan menumbuhkan kepercayaan untuk saling bekerja sama. Identitas nasional penting selalu bersifat terbuka, yaitu: sesuai dengan budaya yang menjadi “akar”/”nilai”, tetapi selalu terbuka untuk diberi tafsir/bentuk baru sesuai dengan kebutuhan perkembangan jaman.
Di era globalisasi seperti sekarang ini, kebutuhan akan identitas nasional menjadi hal yang sangat mendesak. Globalisasi adalah sebuah paradoks, dalam arti bahwa ada dampak positif dan negatif yang bisa dilihat sebagai akibat dari perkembangan fenomena tersebut. Dampak positifnya bisa dilihat dengan jelas pada efektivitas dan efisiensi yang ditawarkan, sebagaimana disinggung di atas. Globalisasi, sudah menjadi fenomena yang besar pada saat ini sehingga yang terjadi tidak hanya sekedar proses sharing of information,tetapi jauh lebih kompleks dari itu karena apa pun yang dimiliki oleh suatu masyarakat, bisa dengan mudah menginfiltrasi masyarakat yang lain, termasuk juga nilai-nilai yang mungkin bertentangan dengan nilai-nilai lokal yang sudah tertanam sejak lama. Dampak negatif tersebut bahkan sangat membahayakan karena yang menjadi sasaran justru aspek yang sangat penting dalam hidup manusia, yakni menyangkut kepribadian, identitas, atau karakter dari manusia tersebut.
Hal ini terjadi karena ketika proses globalisasi berlangsung, segala macam informasi bisa dengan mudah menyebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk nilai-nilai, tradisi, maupun perilaku manusia yang berasal dari budaya yang berbeda. Hal ini bisa menjadi masalah besar karena ketika masyarakat yang menerima pengaruh tersebut ternyata tidak memiliki kepribadian atau karakter yang kuat, proses infiltrasi nilai-nilai dari budaya luar juga akan menjadi lebih mudah. Kaelan menyebutkan bahwa memudarnya filosofi bangsa Indonesia merupakan akibat dari challenge atau tantangan yang signifikan dari globalisasi, materialisme, hedonisme, dan modernisme yang tidak disertai dengan respons yang memadai (Kaelan, 2011: 4). Akibatnya, nilai-nilai budaya lokal ditinggalkan dan bisa dengan mudah digantikan dengan nilai-nilai budaya pop (popular).
Melalui kutipan di atas, Kaelan menegaskan bahwa efek negatif globalisasi pada tataran kepribadian adalah lahirnya sikap-sikap pragmatis, materialistis, dan praktis yang kesemuanya itu memang sikap-sikap yang banyak dipengaruhi oleh budaya luar. Sikap pragmatis adalah sikap yang lebih mementingkan hasil perbuatan daripada proses perbuatan itu sendiri; sikap materialistis adalah sikap yang mementingkan aspek material daripada aspek yang lain; dan sikap praktis adalah sikap yang lebih mementingkan tindakan daripada teori. Ketidaksesuaian antara ketiga sikap di atas dengan kepribadian atau karakter bangsa Indonesia berujung pada satu hal penting, yaitu bahwa perkembangan ketiga sikap tersebut di masyarakat memang harus dibendung. Karakter bangsa yang sudah sejak lama terkikis akibat proses globalisasi budaya perlu direvitalisasi atau dibangun kembali.
Hal ini ditegaskan oleh Djatmiko yang menuliskan bahwa “Bongkahan terbesar problem bangsa ini sesungguhnya berakar di dalam dan dasar samudera, yakni hancurnya karakter dan moral bangsa” (Djatmiko, 2005: 2). Ungkapan Djatmiko tersebut menegaskan bahwa persoalan karakter bangsa adalah persoalan yang perlu untuk segera diatasi karena penyelesaian atas persoalan tersebut akan menjadi modal utama bagi bangsa Indonesia di dalam mengatasi persoalan di bidang-bidang yang lainnya. Character building atau upaya pembangunan karakter tersebut adalah upaya yang sangat penting karena upaya seperti itu akan membawa tiga manfaat sekaligus.
Pertama adalah penguatan kepribadian dan karakter bangsa;
kedua, dengan penguatan karakter tersebut, bangsa Indonesia akan memiliki jati diri yang kuat, yang mampu menjadi filter ampuh bagi berbagai nilai budaya luar yang masuk ke dalam berbagai sendi-sendi kehidupan masyarakat; dan
ketiga, pembangunan karakter tersebut nantinya juga akan menjadi satu langkah penting di dalam upaya penyelesaian permasalahan pelik yang ada di hampir semua bidang kehidupan masyarakat
Post a Comment for "Menurut pendapat Anda, strategi apa yang dapat dijalankan untuk meningkatkan internalisasi Pancasila sebagai Identitas Nasional Indonesia?"